Selasa, 07 Februari 2012

makalah akuntansi manajemen




AKUNTANSI MANAJEMEN
BIAYA MUTU DAN PRODUKTIVITAS
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Manajemen









Oleh:
MUSTOFA
NIM : 094 024 84




PRODI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM DARUL ‘ULUM LAMONGAN


2012



BAB I

KAJIAN TEORI

BIAYA MUTU DAN PRODUKTIVITAS

 

A. BIAYA MUTU

1.1 Pengukuran Biaya Mutu

·          Peningkatan mutu meningakatkan profitabilitas dalam dua cara:
1.     Melalui kenaikan permintaan pelanggan.
2.     Melalui pengurangan biaya.
·          Dalam pasar yang bersaing, peningkatan permintaan dan penghematan biaya menunjukkan perbedaan antara usaha bertahan hidup dan berkembangnya perusahaan.
·          Pentingnya penerapan Market Driven Quality.

1.2 Definisi Mutu
·          Mutu adalah derajat atau tingkat kesempurnaan, dalam hal ini mutu adalah ukuran relatif dari kebendaan (goodness).
·          Secara operasional, mutu produk atau jasa adalah sesuatu yang memenuhi atau melebihi ekspektasi pelanggan, yg diukur dari kepuasan konsumen.
·          Sedangkan ekspektasi pelanggan bisa dijelaskan melalui atribut-atribut mutu atau hal-hal yang sering disebut sebagai dimensi mutu, yaitu sbb:
  1. Kinerja (performance)
Tingkat konsistensi dan kebaikan fungsi-fungsi produk.
  1. Estetika (Aestetic)
Berhubungan dengan penampilan wujud produk.
  1. Kemudahan perawatan dan perbaikan (serviceability)
Berkaitan dg tingkat kemudahan merawat & memperbaiki produk.
  1. Keunikan (Features)
Karakteristik produk yg berbeda secara fungsional dari produk sejenis.
  1. Reliabilitas (Reliability)
Probabilitas berfungsinya produk/jasa dlm jangka waktu tertentu.
  1. Durabilitas (Durability)
Umur manfaat dari fungsi produk.
  1. Tingkat kesesuaian (Quality of conformance)
Ukuran mengenai apakah produk/jasa telah memenuhi spesifikasinya.
  1. Pemanfaatan (Fitness for use)
Kecocokan produk menjalankan fungsi-fungsi sebagaimana yg diiklankan.

1.3 Biaya Mutu
·          Kegiatan yg berhubungan dg mutu adl kegiatan yg dilakukan karena mungkin (akan) atau telah dihasilkan mutu yg jelek atau cacat.
·          Biaya mutu (cost of quality) adalah biaya yang timbul karena mungkin atau telah dihasilkan produk yang jelek atau cacat mutunya.
·          Biaya mutu berhubungan dg aktivitas yg berkaitan dg mutu, yaitu:
1.      Aktivitas pengendalian
Biaya pengendalian: biaya yg dikeluarkan utk menjalankan aktivitas pengendalian.
2.      Aktivitas kegagalan
·          Definisi mengenai kegiatan yanag berhubungan dengan mutu juga menjelaskan empat kategori biaya mutu:
  1. Biaya pencegahan (prevention costs) terjadi untuk mencegah mutu yg jelek pada produk/jasa yg akan dihasilkan. Apabila biaya pencegahan meningkat, maka biaya produk gagal diharapkan turun.
  2. Biaya penilaian (appraisal costs) terjadi untuk menentukan apakah produk/jasa telah sesuai dengan persyaratan & kebutuhan pelanggan.
  3. Biaya produk gagal internal terjadi Karena produk/jasa yang dihasilkan tidak sesuai dengan spesifikasi atau kebutuhan pelanggan.
  4. Biaya produk gagal eksternal terjadi karena produk dan jasa yang dihasilkan gagal memenuhi persyaratan dan kebutuhan pelanggan setelah barang dikirim ke pelanggan.
1.4 Fungsi Biaya Mutu Pandangan Tradisional
·          Mengasumsikan bahwa trdapat trade-off antara biaya pengendalian dan biaya produk gagal. Ketika biaya pengendalian meningkat, biaya produk gagal harus turun.
·          Selama biaya penurunan biaya produk gagal lebih besar daripada kenaikan biaya biaya pengendalian, perusahaan harus terus mningkatkan usahanya untuk mencegah atau mendeteksi unit-unit cacat.Sehingga dicapai suatu titik yang dikenal sebagai tingkat mutu yangdapat diterima (acceptable quality level – AQL)
 
1.5 Fungsi Biaya Mutu: Pandangan Kontemporer
·          Pandangan klasik, produk dikatakan cacat bila karakteristik mutunya berada di luar batas toleransi. Biaya produk gagal timbul hanya apabila produk tidak sesuai dengan spesifikasi dan timbul trade-off optimal antara biaya produk gagal dan biaya pengendalian. AQL mengijinkan dan, dalam kenyataannya, menganjurkan produksi dengan jumlah cacat tertentu.
·          Pandangan kontemporer muncul dengan istilah model cacat nol (zero defect). Model ini menyatakan bahwa dengan mengurangi unit cacat hingga nol maka akan diperoleh keunggulan biaya.
·          Strategi untuk menekan biaya mutu, (1) lakukan serangan langsung terhadap biaya produk gagal untuk memaksa menuju titik nol; (2) lakukan investasi pada kegiatan pencegahan yang tepat untuk memperbaiki mutu; (3) kurangilah biaya penilaian menurut hasil yang dicapai; (4) lakukanlah evaluasi secara continue dan arahkan kembali usaha pencegahan untuk mendapatkan perbaikan lebih lanjut. Stategi ini berdasarkan premis bahwa:
·          Dalam setiap kegagalan sekalu ada akar penyebabnya.
·          Penyebab bisa dicegah .
·          Biaya pencegahan selalu lebih murah.



B. PRODUKTIVITAS
1.1 Definisi
·          Produktivitas berkaitan dengan pembuatan output secara efisien dan secara spesifik menunjuk pada hubungan antara output (hasil produksi) dan input (bahan baku) yang digunakan untuk memproduksi output.
·          Total efisiensi produktif adalah suatu titik dimana dua kondisi terpenuhi: (1) pada setiap bauran input untuk memproduksi output tertentu, tidak digunakan lebih dari satu input dari yang diperlukan dan (2) dengan bauran yang memenuhi kondisi pertama, dipilih bauran dengan biaya terendah.
·          Kondisi pertama disebabkan oleh hubungan teknis, sehingga disebut efisiensi teknik. Kondisi kedua digerakkan oleh hubungan harga input relatif dan karena itu disebut efisiensi trade-off.

1.2 Efesiensi Trade-off Input
                                  
Produktivitas saat ini



Input:


Output
Tenaga kerja
X X X X

O O O

Modal
$ $ $ $

O O O




Output Sama, Lebih Sedikit Input



Input:


Output
Tenaga Kerja
X X X

O O O

Modal
$ $ $

O O O




Lebih Banyak Output, Input Sama



Input:


Output

Tenaga Kerja 
X X X X

O O O O
Modal
$ $ $ $

O O O O








Lebih Banyak Output, Lebih Sedikit Input



Input:


Output
Tenaga Kerja
X X X

O O O O

Modal
$ $ $

O O O O


1.3 Efisiensi Trade Off Input

Kombinasi I Efisiensi Secara Teknis



Total Biaya Input =$20.000.000



Tenaga Kerja
X X X

O O O O

Modal
$ $ $

O O O O




Kombinasi II Efisiensi Secara Teknis



Tenaga Kerja
X X X

O O O O

Modal
$ $ $ $

O O O O

1.4 Pengukuran Produktivitas Parsial
·          Pengukuran produktivitas: Penilaian kuantitatif atas perubahan produktivitas Yg bertujuan untuk menilai apakah efisiensi produktif meningkat atau menurun. Pengukuran produktivitas dapat berupa aktual atau prospektif. Pengukuran produktivitas aktual memungkinkan manajer menilai, memantau, dan mengendalikan perubahan.
·          Produktivitas input tunggal biasanya diukur dengan menghitunga rasio output terhadap input:                                   
                                              Output
         Rasio produktivitas =
                                               Input     

·          Pengukuran produktivitas parsial: Terjadi karena produktivitas hanya mrpk salah satu input yg sedang diukur.
·          Ukuran produktivitas operasional: Apabila output dan input diukur dalam kuantitas fisik.
·          Ukuran produktivitas keuangan: Apabila output & input dinyatakan dlm rupiah.

1.5 Keunggulan Ukuran Parsial
·          Ukuran parsial memungkinkan manajer untuk memusatkan perhatiannya pada penggunaan input tertentu.
·          Pengoperasian ukuran parsial memiliki keunggulan, yaitu mudah diinterpretasikan oleh karyawan, sehingga ukuran tersebut mudah digunakan untuk menilai kinerja produktivitas personil operasi.

1.6 Kelemahan Ukuran Parsial
·          Ukuran parsial yg digunakan secara terpisah, dapat menyesatkan. Penurunan produktivitas suatu input mungkin diperlukan untuk meningkatkan produktivitas input lainnya.
·          Trade-off seperti itu sangat diperlukan apabila biaya secara keseluruhan turun, tetapi pengaruh tsb akan hilang jika digunakan ukuran parsial lainnya.

1.7 Pengukuran Total Produktivitas
·          Pengukuran total produktivitas adl pemusatan perhatian pd bbrp input, yg scr total mencerminkan keberhasilan perusahaan
·          Dua pendekatan pengukuran total produktivitas
1.      Pengukuran Profil Produktivitas
2.      Pengukuran Produktivitas yg Berkaitan dg Laba

·          Pengukuran Profil Produktivitas
K        Pembuatan suatu produk membutuhkan bbrp input utama spt tenaga kerja, bahan, modal & energi.
K        Pengukuran profil menyediakan serangkaian ukuran operasional parsial yg berbeda & terpisah
K        Profil dpt dibandingkan dr waktu ke waktu untuk menyediakan informasi bagi manajemen mengenai pengaruh perubahan proses thdp produktivitas scr keseluruhan
K        Ilustrasi: Kankul Co. menerapkan proses baru yg mempengaruhi produktivitas tenaga kerja & bahan.



BAB II
CONTOH SOAL DAN PEMBAHASAN

A. BIAYA MUTU
2.1 Mengukur Biaya Mutu
·          Klasifikasi biaya mutu:
1.      Biaya mutu yg terlihat (observable quality costs) adl biaya yg disajikan dlm catatan akuntansi organisasi
2.      Biaya mutu yg tersembunyi (hidden costs) adl opportunity costs yg tjd krn mutu jelek
·          Metoda estimasi hidden costs:
1.      Metoda Pengganda
Total biaya produk gagal = k (biaya produk gagal eksternal yg diukur)
2.      Metoda Penelitian Pasar
Digunakan menilai pengaruh mutu yg jelek thdp penjualan dan pangsa pasar. Hasilnya dpt digunakan untuk mengestimasi hilangnya laba dimasa yad akibat mutu jelek.
3.      Fungsi Rugi Mutu Taguchi
Setiap variasi nilai target dr karakteristik mutu akan menimbulkan hidden costs. Hidden costs meningkat scr kuadrat pd saat nilai aktual menyimpang dr nilai target
L (y) = k (y – T)2
dimana:
k = Konstanta proporsionalitas yg besarnya tergantung pada struktur biaya produk gagal eksternal organisasi
y = Nilai aktual dari karakteristik mutu
T = Nilai target dari karakteristik mutu
L = Rugi mutu

·          Ilustrasi rugi mutu Taguchi: k = Rp400, T = 10 inci, total unit yg dihasilkan  2.000
Unit
Diameter aktual (y)
y - T
(y – T)2
k (y – T)2
1
9,9

-0,10

0,010
4,00

2
10,1

0,10

0,010
4,00

3
10,2

0,20

0,040
16,00

4
9,8

-0,20

0,040
16,00

Total



0,100
40,00

Rata-rata



0,025
10,00

Biaya per unit yg diharapkan = Rp10 (0,025 x Rp400) =  Rp100
Total kerugian untuk 2.000 unit= Rp20.000 (Rp10 x 2.000) =  Rp400.000.000

2.2 Pelaporan Informasi Biaya Mutu
Manfaat pencatatan rinci biaya mutu aktual berdsrkan kategorinya
1.      Mengungkap pola biaya mutu dlm setiap kategori, shg memungkinkan manajer menilai dampak keuangannya
2.      Mengungkap distribusi biaya mutu mnrt kategori, shg memungkinkan manajer menilai kepentingan relatif setiap kategori

2.3 Laporan Biaya Mutu
·          Signifikansi keuangan biaya mutu dinilai dg persentase dr penjualan aktual. Prinsipnya biaya mutu kurang dari 2,5% penjualan
·          Kesempatan memperbaiki laba melalui pengurangan biaya mutu (perbaikan mutu)
·          Contoh Laporan Biaya Mutu:

LAPORAN BIAYA MUTU


Biaya Mutu

% dr Sales
Biaya Pencegahan
   Pelatihan Mutu
   Reliabilitas Mesin

35.000
80.000


115.000


4,11
Biaya Penilaian
   Pemeriksaan Bahan
   Penilaian Produk
   Penilaian Proses

20.000
10.000
38.000



68.000



2,43
Biaya Produk Gagal Internal
   Sisa Bahan
   Pengerjaan Ulang

50.000
35.000


85.000


3,04
Biaya Produk Gagal Eksternal
   Keluhan Pelanggan
   Jaminan
   Perbaikan (Reparasi)

25.000
25.000
15.000



65.000



2,32
Total Biaya Mutu

333.000
11,9

·          Dua pandangan ttg biaya mutu optimal
1.      Pandangan tradisional, mengejar pencapaian tk mutu yg bisa diterima (acceptable quality level – AQL)
2.      Pandangan kontemporer, sbg pengendalian mutu total

2.4 AnalisisTren
·          Laporan biaya mutu menyajikan jumlah dan dustribusi biaya mutu diantara keempat kategori, sehingga mencerminkan peluang untuk perbaikan mutu. Setelah ukuran perbaikan mutu ditentukan, perlu ditetapkan apakah biaya mutu telah berkurang sebagaimana direncanakan.
·          Laporan biaya mutu tidak akan memperlihatkan apakah perbaikan program mutu telah berjalan atau tidak. Untuk melihatnya diperlukan Laporan Trend Mutu Multiperiode. Contoh:

Thn
Pencegahan
Penilaian
Produk gagal
 internal
Produk gagal
 ekstenal
1994
2%
2%
6%
10%
1995
3%
2.40%
4%
8.60%
1996
3%
3.00%
3%
6%
1997
4%
3%
2.50%
4.50%
1998
4.10%
2.40%
2%
1.50%



B. PRODUKTIVITAS: PENGUKURAN, DAN PENGENDALIAN
2.1 Pengukuran Produktivitas: Analisis Profil tanpa Trade-off


1997
1998
Jumlah produksi mesin
120.000
150.000
Jam tenaga kerja yg digunakan
40.000
37.500
Bahan yg digunakan (kilogram)
1.200.000
1.428.571

Rasio Produktivitas Operasional Parsial

Profil 1997a
Profil 1998b
Rasio produktivitas tenaga kerja
3,000
4,000
Rasio produktivitas bahan
0,100
0,105

aTenaga kerja:
120.000

Bahan:
120.000

40.000


1.200.000
bTenaga kerja:
150.000

Bahan:
150.000

37.500


1.428.571

2.3 Pengukuran Produktivitas: Analisis Profil dengan Trade-off


1997
1998
Jumlah produksi mesin
120.000
150.000
Jam tenaga kerja yg digunakan
40.000
37.500
Bahan yg digunakan (kilogram)
1.200.000
1.700.000

Rasio Produktivitas Operasional Parsial

Profil 1997a
Profil 1998b
Rasio produktivitas tenaga kerja
3,000
4,000
Rasio produktivitas bahan
0,100
0,088

aTenaga kerja:
120.000

Bahan:
120.000

40.000


1.200.000
bTenaga kerja:
150.000

Bahan:
150.000

37.500


1.700.000

Analisis profil tak mampu mengungkapkan apakah trade-off itu baik atau buruk, & oleh karenanya perlu diketahui pengaruh ekonomis dari perubahan produktivitas  (mrp sebuah ukuran total produktivitas)
·          Pengukuran Produktivitas yg Berkaitan dg Laba
K        Pengukuran produktivitas yg berkaitan dg laba adl pengukuran jumlah laba yg diakibatkan oleh perubahan produktivitas
K        Memberikan informasi kpd manajer akan manfaat ekonomis perubahan produktivitas
K        Pengukuran ini menjumlahkan serangkaian ukuran operasional parsial yg berbeda shg ideal untuk menilai trade-off

·          Peraturan Terkait Laba (Profit-linkage Rule)
Untuk mengaplikasikannya, perlu dihitung input yg akan digunakan, misalkan PQ adl jumlah input tanpa perubahan produktivitas

PQ
=
Output berjalan
Rasio produktivitas periode dasar

K        Ilustrasi dg trade-off input:

1997
1998
Jumlah produksi mesin
120.000
150.000
Jam tenaga kerja yg digunakan
40.000
37.500
Bahan yg digunakan (kilogram)
1.200.000
1.700.000
Harga jual per unit (mesin)
Rp50
Rp48
Upah tenaga kerja per jam
Rp11
Rp12
Biaya bahan per kg
Rp2
Rp3

Output berjalan th 1998 150.000 mesin, rasio produktivitas periode dasar (1997) utk TK dan BB masing-masing 3 & 0,10 sehingga jumlah input dan bahan yg akan digunakan th 1998:
PQ (tenaga kerja)
=
150.000
= 50.000 jam
3
PQ (bahan)
=
150.000
= 1.500.000 kg
0,10

·          Untuk mengetahui biaya yg dikeluarkan, dihitung dg mengalikan jumlah setiap input (PQ) dg harga berjalan (P)
Biaya tenaga kerja: PQ x P = 50.000 x Rp12
=
Rp600.000
Biaya bahan: PQ x P = 1.500.000 x Rp3
=
Rp4.500.000
Total biaya PQ
=
Rp5.100.000

·          Biaya input aktual diperoleh dg mengalikan jumlah input aktual (AQ) dg harga berjalan setiap input (P)
Biaya tenaga kerja: AQ x P = 37.500 x Rp12
=
Rp450.000
Biaya bahan: AQ x P = 1.700.000 x Rp3
=
Rp5.100.000
Total biaya berjalan
=
Rp5.550.000

·          Pengaruh produktivitas thdp laba dihitung dg:
Pengaruh terkait laba
=
Total biaya PQ - Total biaya berjalan

=
Rp5.100.000 - Rp5.550.000

=
Rp450.000 penurunan laba

·          Pengukuran produktivitas terkait laba

1
2
3
4
2-4
Input
PQ*
PQ x P
AQ
AQ x P
Kenaikan laba
Tenaga kerja
50.000
Rp600.000
37.500
Rp450.000
150.000
Bahan
1.500.000
4.500.000
1.700.000
5.100.000
(600.000)
Total

Rp5.100.000

Rp5.550.000
Rp(450.000)


2.3 Komponen Pemulihan Harga
K        Adl perubahan pendapatan dikurangi perubahan biaya input, dg asumsi tak ada perubahan produktivitas
K        Ilustrasi

1997

1998

Selisih
Pendapatana
Rp7.200.000

Rp6.000.000

Rp1.200.000
Biaya input b
5.550.000

2.840.000

2.710.000
Laba
Rp1.650.000

Rp3.160.000

Rp(1.510.000)

aRp48 x 150.000; Rp50 x 120.000
b(Rp12 x 37.500) + (Rp3 x 1.700.000); (Rp11 x 40.000) + (Rp2 x 1.200.000)

Pemulihan harga
=
Perubahan laba – Perubahan produktivitas terkait laba

=
Rp(1.510.000) – Rp(450.000)


=
Rp(1.060.000)



BAB III
KESIMPULAN

Mutu & Produktivitas
K        Perbaikan mutu dapat meningkatkan produktivitas, bila pengulangan kerja berkurang krn menurunnya unit produk cacat, maka lebih sedikit tenaga kerja dan bahan yg digunakan untuk menghasilkan output yg sama, dan sebaliknya.
K        Penurunan jumlah unit cacat memperbaiki mutu
K        Pengurangan jumlah input yg digunakan meningkatkan produktivitas



BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1.        Amin widjaya T. Akuntansi Manajemen untuk perencanaan, pengendalian dan penganbilan keputusan. Harvindo.2009
2.        Ray H. Garrison, Bambang Purnomoshidi dan Erwan Dukat (Penterjemah), 2000. Akuntansi Manajemen, Buku 2, Edisi Ketiga, Yogyakarta : Penerbit AK Group.
3.         Supriyono, 2002. Akuntansi Biaya dan Akuntansi Manajemen untuk Teknologi 
Maju dan Globalisasi, Yogyakarta : BPFE.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar